Hotel Salatiga Terlangsing di Indonesia, Kedua di Dunia

Kota Salatiga – Kota Salatiga mencatatkan rekor hotel terlangsung atau tertipis di Indonesia, bahkan kedua di dunia!
Inilah Hotel Pitu Rooms di Jalan Sukowati No 33, dekat dengan Alun-alun Pancasila Salatiga. Meski tak ada pelang hotel di depannya, warga yang melintas bisa dengan mudah menemukan Pitu Rooms karena bentuknya yang unik. Hotel itu hanya memiliki lebar 2,8 meter, panjang 9,5 meter, dan tinggi 17 meter. Bangunan itu terlihat menjulang tinggi dengan warna mayoritas cokelat kayu. Sulit membayangkan bangunan itu adalah hotel jika hanya melihat dari depan. Identitas bangunan itu hanya terlihat di satu sisi bangunan dengan tulisan ‘PITU’.

Di depannya justru ada papan nama Kafe Ngopo Ngopi, yang membuatnya lebih terlihat seperti kafe. Apalagi susunan meja-kursi dan wastafel di depannya, jika tanpa meja resepsionis, area depan hanya akan terlihat seperti kafe biasa.

“Ini sepertinya memang dinobatkan sebagai hotel tertipis di Indonesia. Kalau di dunia nomor dua, yang pertama ada di Jerman tapi kan di sana hanya ada satu kamar,”, Kamis (21/3/2024).

Hotel tertipis yang dimaksud ialah Eh’Haeusl yang berada di Amberg, Jerman. Hotel itu lebih tipis 40 sentimeter dibanding Pitu Rooms.

Meski begitu, Eh’Haeusl lebih seperti rumah yang dijadikan hotel dengan kapasitas maksimal dua orang tamu. Jauh berbeda dengan Pitu Rooms yang memiliki 7 lantai dengan 7 kamar, restoran, dan kafe.

“Kalau di sini per kamar memang direkomendasikan hanya untuk dua orang, kalau anak di bawah lima tahun masih boleh tapi kalau di atas lima tahun direkomendasikan pesan kamar tambahan,”.

Di dalam, tamu langsung bisa melihat kafe dengan biji-biji kopi yang ditaruh di dalam toples kaca. Susunan kursi-meja ditambah area dapur di lantai pertama membuat suasana justru seperti kafe. Suasana mulai terlihat seperti hotel setelah kita melihat meja resepsionis dan berbagai cindera mata yang dipajang di sisi-sisi ruangan. Hotel itu memiliki 7 kamar yang berada di lantai 2 hingga lantai 5.

Sedangkan untuk lantai 6 disediakan sebagai restoran dan lantai 7 merupakan ruang untuk instalasi. Sensasi berbeda mulai terasa saat kita ingin menuju kamar. Baik melalui tangga atau menggunakan lift, semua terasa berbeda dibanding hotel-hotel lain. Bagi pengunjung belum pernah menaiki lift yang menggunakan tenaga vakum, ini akan jadi pengalaman mengesankan.

“Lift kita pakai vakum, hanya muat untuk 1 orang dan berat maksimal 100 kilogram,” katanya.

Lift tersebut berbentuk seperti kapsul. Menaikinya akan terasa seperti didorong dengan udara secara perlahan, lift itu akan sesekali berhenti sampai tujuan akhirnya. Naik dengan tangga juga tak kalah asyik. Melalui tangga berlubang pengunjung bisa melihat suasana bawah dengan samar-samar. Menikmati desain interior dan berbagai lukisan sepanjang jalan akan membuat menaiki enam lantai seperti tak terasa.

Hotel itu memiliki panjang 9,5 meter dan ketinggian 17 meter. Meski lebarnya hanya 2,5 meter, suasana kamar terasa seperti kamar hotel biasanya. Segala fasilitas seperti tv, lemari, hingga toilet, lengkap berada di dalam kamar. Kamar-kamar hotel tersebut berukuran 2,4×3 meter. Selain keunikannya, pemandangan juga menjadi kelebihan hotel tersebut. Bila suasana cerah, ada tiga gunung yang bisa terlihat dari restoran hotel itu. Ada juga kamar-kamar yang menyajikan pemandangan gunung dari balik jendela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *